Anak kampung masuk kota.

Anak kampung masuk kota, ini adalah profil saya. (Red. Bahasa Batak "Parhuta-Huta Hian / PH3")
Saya dilahirkan disebuah kampung terpencil yang berjarak 20km dari jalan besar atau jalan lintas atau dari kantor kecamatan, untuk mencapai desa kelahiran saya harus ditempuh dengan waktu 1 jam jika menggunakan sepeda motor dengan melewati jalan yang berlobang-lobang dan 3 jurang besar, yang mungkin orang yang sudah lahir dikota wajar jika tidak berani melewati jurang-jurang disertai dengan jalan bebatuan yang berlobang-lobang untuk sampai ke kampung halaman saya dilahirkan.
Pada saat saya masih anak-anak, setiap orang yang hendak ke kota atau ke ibukota kecamatan hanya dapat dilakukan 2 kali seminggu yaitu pada saat hari pekan dengan menumpang mobil pick up dan duduk diatas tumpukan-tumpukan karung hasil pertanian yang akan dijual ke kota. Satu mobil pickup ukuran Datsun bisa mencapai 40 orang penumpang. Resiko tinggi untuk kecelakaan. Tapi apa boleh buat itulah keterbatasan kampung itu.

SD dikampung itu, SMP harus berjalan 8 km setiap hari untuk sampai disekolah yang saya rindukan saat ini.
Sejak memasuki SMA sampai saat ini sudah tinggal di kota dan tidak akan pernah lupa akan kampung halaman dimana saya dilahirkan.

Saat ini saya telah memiliki Istri yang baik dan Menlalui berkat TUHAN Istri saya telah memberikan saya 2 orang anak laki-laki yang ganteng2 dan 2 orang anak permpuan yang cantik, dan berkat istri saya juga saya bisa memulai blog ini.

Dan judul ini menjadi inspirasi buat saya untuk terus dan terus berkarya dan mencoba menulis apa yang saya pikirkan untuk bisa diketahui oleh orang banyak dan mudah-mudahan buat yang membaca bisa berguna.

Semoga anda juga tidak melupakan kampung halaman tempat kelahiran anda.

Kembali berpikir positip, Maafkan saya Inang soripada ku. Kamu adalah inspirasiku. Aku hidup bersamamu dan anak-anak kita.

Thanks for God!

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda